DISCLAIMER

Blog ini adalah inisiatif dari beberapa orang yang berhimpun dalam Organisasi Kemasyarakatan yang bernama Garda Kedaulatan Indonesia (GKI) yang berkepentingan untuk ikut berpartisipasi dalam melahirkan kepemimpinan nasional yang mampu mengemban amanah sebagaimana yang telah digariskan dalam UUD Tahun 1945 dan sekaligus mampu mengimplementasikannya. Melalui pengamatan dan pengkajian mendalam yang dilakukan oleh Garda Kedaulatan Indonesia atas sosok Tokoh Nasional DR. Rizal Ramli, baik itu menyangkut gagasan, konsep dan pemikiran ekonomi DR. Rizal Ramli dan kiprahnya selama menjabat sebagai Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur, maupun sebagai ekonom kelas dunia dengan ECONITnya. Garda Kedaulatan Indonesia menyimpulkan bahwa DR. Rizal Ramli adalah figur yang potensial dan memiliki intergritas untuk dicalonkan sebagai Presiden RI berikutnya. Berdasarkan pertimbangan inilah Garda Kedaulatan Indonesia mempersembahkan Blog ini kepada masyarakat Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal pemikiran, gagasan dan konsep dari seorang DR. Rizal Ramli yang selanjutnya diharapkan masyarakat Indonesia memiliki visi yang sama dengan Garda Kedaulatan Indonesia untuk mendukung dan mencalonkan DR. Rizal Ramli sebagai calon Presiden RI berikutnya yang potensial untuk mendapat dukungan kita semua mayoritas rakyat pemilih Indonesia. Untuk diketahui blog ini tidak ada hubungannya atau diketahui oleh DR. Rizal Ramli, ini murni inisiatif dari Garda Kedaulatan Indonesia untuk mensosialisasikan sosok DR. Rizal Ramli sebagai figur yang paling potensial dan memiliki integritas menjadi Presiden Indonesia berikutnya, apabila blog ini mendapatkan respon yang positif dari masyarakat, khususnya kepada DR. Rizal Ramli, maka Garda Kedaulatan Indonesia secara resmi akan menyampaikan dan memberitahukan kepada yang bersangkutan, dan sekaligus mendesak DR. Rizal Ramli agar bersedia dicalonkan sebagai Presiden Indonesia pada 2014 mendatang.

Minggu, 18 November 2012

Rizal Ramli Siap Menempuh Jalan Terjal Jejak Lula, mantan Presiden Brasilia

DR. Rizal Ramli

JAKARTA,RIMANEWS- Selasa kemarin (31/7/12), dialog jelang berbuka puasa di kediaman mantan menko perekonomian Rizal Ramli PhD, Kemang , Jakarta, diwarnai wacana pergulatan Presiden Lula untuk memimpin perubahan di Brasilia. Dalam percaturan pilpres di Indonesia,  pergulatan  mantan menko perekonomian Rizal Ramli PhD kini mirip atau serupa dengan Lula, mantan presiden Brasilia.  Rizal Ramli dan Lula sama-sama  marginal dan berangkat sebagai  sosok pergerakan yang memihak rakyat dengan visi-misi, program dan agenda rakyat yang sejati: membebaskan rakyat kita dari perbudakan dan perkulian/jongos, seraya menghayati, menolong dan memberdayakan rakyat kecil agar kehidupan mereka lebih baik, adil dan  sejahtera. Itu bukan slogan, atau janji. itu komitmen tertulis seorang Rizal Ramli yang kredibel, kapabel dan memiliki kapasitas teknokratis untuk membangun kembali Indonesia dari keterpurukan era SBY. Hanya Rizal Ramli yang memiliki kecakapan untuk itu, meski ia tak dikenal dalam survei, dan jajak pendapat. RR sedang gerilya membangun basis massa politik yang kohesif.
Rizal Ramli atau Gus Romli adalah ekonom senior  peraih Doktor (PhD) lulusan Boston University,AS, khas  sosok marginal keluarga besar dari Gus Dur almarhum, tidak dikenal, tidak populer, tak mampu bayar iklan tivi , namun terus menggalang kekuatan buruh perkotaan, serikat pekerja, petani, nelayan  dan  para lurah/kepala desa  serta mahasiswa dan para inteligensia yang perduli di seluruh Indonesia dengan obsesi agar ada dana 10 persen dari APBN bisa dicurahkan bagi pembangunan pedesaan dan pemberdayaan kaum miskin. Rizal Ramli yang sejak masa kanak yatim piatu kini meyakini  pada tahap awal, bakal meraih 10 persen suara rakyat melalui jaringan buruh, petani, kepala desa/lurah dan nelayan serta kaum pedagang kecil/kaki lima termasuk kaum inteligensia.

Rizal Ramli (RR) mengingatkan bahwa ketika maju sebagai calon presiden di Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva (Presiden Lula) tidaklah populer,  tidak punya jaringan televisi, tidak mampu bayar iklan televisi dan tidak didukung media maupun para konglomerat Brasil  yang menguasai media  cetak maupun elektronik.Namun Lula akhirnya menang dan terpilih jadi presiden yang amanah. Seperti halnya Lula yang sengsara sejak muda, RR sudah menjadi sosok pergerakan sejak mahasiswa ITB, berdemonstrasi  1977/78 melawan kezaliman dan dipenjara Orde Baru di Sukamiskin Bandung, terkucil, terpasung dan teralienasi, namun berhasil studi PhD ilmu Ekonomi di Boston University,AS  sebagai bekal untuk membangun kembali bangsa Indonesia yang galau, murung,merana dan kehilangan harapan.
Dalam dua periode kepemimpinan (2002-2006 dan 2006-2010), Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, 64 tahun, berhasil mengangkat derajat Brasil dari negara miskin menjadi salah satu negara terkaya dunia.
Di bawah kepemimpinannya, puluhan juta rakyat Brasil lepas dari belenggu kemiskinan dan berhasil menjadi orang-orang kaya baru. Berdasarkan konstitusi, Lula tak diperbolehkan menjabat untuk periode ketiga.
Lula, yang resmi menyerahkan kekuasaannya ke presiden baru pada 1 Januari 2011, telah menjadi simbol transformasi Brasil dari yang tadinya negara keranjang utang ke negara kaya baru. Meskipun demikian, bukan berarti mantan tukang semir miskin dan pandai besi itu tak pernah gagal.
Brasil, yang luas daratan dan jumlah penduduknya terbesar di Amerika Selatan, telah menunjukkan pengaruh politik yang luar biasa, bukan saja di kawasan ini tetapi juga di tingkatan global.
Dengan dua periode kekuasaan di tangannya, Lula Da Silva telah memantapkan posisi Brazil sebagai kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan di dunia, bahkan data IMF mencatat, bahwa negeri samba ini akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima di dunia pada 2020 mendatang.
Tak heran, bila kepresidenan Lula paling dikenang rakyatnya. Lihat saja Cremilda Maria da Silva, seorang
warga miskin berusia 35 tahun yang mengelu-elukan Lula, karena gajinya kini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Ini pemerintahan terbaik Brasil. Sebelum Lula,  rakyat Brasil seperti tak memiliki pemerintahan kecuali kekuasaan elite yang egois dan picik.
Menurut ekonom senior Rizal Ramli sendiri, Presiden SBY dan siapapun  sebaiknya belajar dari keberhasilan pemimpin Brasil, Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, 64 tahun, dalam membangun pertanian dan perekonomian rakyatnya, bukan semata membangun pasar modal dan sektor nontradable yang jelas tidak menguntungkan rakyat.
Dalam dua periode kepemimpinan (2002-2006 dan 2006-2010), Lula berhasil mengangkat derajat Brasil dari negara miskin menjadi salah satu negara terkaya dunia.
Di bawah kepemimpinan Lula, ungkap mantan Menteri Perekonomian itu, puluhan juta rakyat Brasil lepas dari belenggu kemiskinan dan berhasil menjadi orang-orang kaya baru. Prestasi Lula diakui bukan sebatas di bidang ekonomi. Ia juga dilihat sebagai simbol keberhasilan warga kebanyakan, dari kelas pekerja, dalam mencapai posisi puncak politik dan memajukan bangsanya.
Rakyat Brasil bebas dari kemiskinan, sebagian besar kaum taninya sejahtera dan bebas dari keterbelakangan. Pembangunan pro-rakyat, pro-poor dan pro-job di sektor pertanian.
Selama delapan tahun memimpin, Lula berhasil mengubah jutaan rakyat miskin Brasil menjadi kelas menengah yang leluasa membelanjakan uang. Lula juga berjasa dalam mengubah Brasil menjadi satu pemimpin ekonomi dan diplomasi serta raksasa ekonomi Amerika Latin, Rizal Ramli menyebutkan, program-program sosial  Lula berhasil mengangkat 19 juta penduduk Brasil dari jurang kemiskinan. 

“Luiz Inacio Lula da Silva sukses memimpin Brasil menjadi salah satu negara berkembang yang disegani di dunia. Ketika seorang mantan penjual kacang dan pemimpin serikat buruh radikal yang berpendidikan rendah menjadi presiden Brasil pada 2003, banyak pihak yang meyakini raksasa Amerika Latin ini bakal tertatih-tatih.
Tujuh tahun berlalu, Lula sukses menempatkan dirinya di puncak bersama negara-negara berkembang pesat lain, seperti Rusia, China, dan India.
Di dalam negeri, kebijakan-kebijakan ekonomi dan program-program sosial berhasil mengangkat 19 juta penduduk Brasil dari jurang kemiskinan. Karena itu, tidak heran jika Lula memperoleh dukungan lebih dari 80 persen dari rakyatnya.
Pertumbuhan pesat ekonomi Brasil selama lima tahun belakangan ditopang oleh ekspor berbagai komoditas, diplomasi apik, dan kharisma Lula yang ditunjukkan di berbagai pertemuan tingkat internasional.
Selama berkuasa, Lula tidak segan-segan mengunjungi negara-negara yang belum pernah dikunjungi pemimpin Brasil sejak abad ke-19. Tujuan dari diplomasi aktif Lula adalah mencari kesempatan bisnis bagi Brasil. Tidak seperti negara-negara berkembang pesat lain yang tergabung dalam BRIC( Brasil, Rusia, India, dan China), Brasil tidak terpengaruh oleh isu keamanan. Lula, 63 tahun, memperluas peran Brasil tanpa menciptakan musuh.
Pada 2002, pakar ekonomi memprediksi Lula akan menyebabkan bencana bagi perekonomian Brasil. Sementara lawan-lawan politik di dalam negeri menyoroti soal pendidikan dan kemampuan bahasa Inggris Lula yang rendah bisa berakibat buruk dalam pergaulan internasional.
Pertanyaan besarnya adalah apakah Brasil akan bernasib sama seperti Argentina, yang jatuh ke dalam krisis ekonomi karena terlilit utang. Pada 2006, ternyata menurut Rizal Ramli,  Brasil mampu melunasi utang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) lebih awal. Bahkan Brasil siap memberi pinjaman sebesar 10 miliar dollar AS kepada IMF.
Lula memberlakukan kebijakan luar negeri yang sangat aktif. Dia telah mengunjungi 75 negara dan membuka 33 kedutaan besar baru. Empat belas kedutaan besar baru di buka di Afrika, sebagai bagian dari agenda kerja sama selatan-selatan antara Amerika Selatan dan Afrika.
Lula menjadi ujung tombak bagi negara-negara berkembang yang mendesak negara-negara kaya supaya menghapus subsidi pertanian, berperan lebih dalam perundingan perubahan iklim, dan memimpin dalam penanggulangan krisis keuangan global.
Lula mampu menjaga popularitasnya tetap tinggi dengan rajin mengunjungi permukiman-permukiman kumuh, membuka proyek-proyek publik, dan siaran di radio sekali dalam sepekan. Kharisma dan kemampuannya memobilisasi kaum miskin luar biasa, ujar Kenneth Maxwell, direktur Program Kajian Brasil di Harvard University.
Rizal Ramli memuji Lula dan kabinetnya yang berkuasa dengan persiapan penuh dalam menghadapi krisis keuangan di Brasil dengan membatalkan sejumlah megaproyek untuk menghemat cadangan mata uang asing. Hal ini membuat Brasil bisa bertahan di tengah krisis global yang terjadi mulai tahun lalu.
Kini pertarungan Rizal Ramli adalah pengulangan sejarah Lula di Indonesia, apakah Rizal Ramli bisa maju jadi capres atau cawapres pada 2014?  Sejarah yang kelak menjawabnya.
Yang pasti, gagasan, prinsip dan cita-citanya adalah mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945 dengan rendah hati untuk belajar dan mengambil hikmah dari keberhasilan Presiden Lula dari Brasilia. Rizal Ramli dengan kaum buruh,petani, nelayan,  kaki lima, pedagang kecil, penjaja dan sektor informal  serta mahasiswa dan kaum inteligensi yang perduli, bertekad menjadi ‘’pembawa obor’’ semangat Soekarno-Hatta di tengah  kompleksitas dan bengisnya politik praktis di Indonesia. Rizal  Ramli berusaha keras dan persisten dalam meyakinkan kelas pengusaha (borjuis) kita agar komit dan perduli pada kaum dhuafa yang kini dipanggulnya untuk perubahan.
 ‘’Harus ada perubahan, harus ada perubahan. Perubahan  dan perubahan, ‘’ kata almarhum penyanyi  populis Franky Sahilatua kepada kita sebelum sakitnya yang keras dan mangkat. Rizal Ramli menghayati pesan dan nyanyian Franky and Jane itu,dengan semangat perubahan, dari Rumah Perubahan, Jakarta dan jaringannya di seluruh Indonesia.  ''Sekali berarti, sudah itu mati, ''demikian pesan Chairil Anwar, penyair terbesar Angkatan 1945.(berbagai sumber).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar