Setidaknya ada lima hal antara Bung Karno dan Rizal Ramli, yang jika diperhatikan ternyata perjalanan kehidupannya memiliki kesamaan. Sungguh suatu kebetulan yang menarik. “Yang Pertama. Soekarno dan Rizal Ramli sama-sama sempat digembleng sebagai mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB),” kata I Gede Aradea Sandra Permadi, mantan Sekjen Partai Rakyat Demokratik, Jumat (6/7/2012).
Soekarno muda, sambung Gede, mulai kuliah di kampus yang berlokasi di Jl Ganesa 10, Bandung, ini sejak tahun 1921, sedangkan Rizal Ramli muda masuk tahun 1973. Semasa kuliah inipun keduanya menemukan pendamping hidup, jika Soekarno menemukan Inggit Ganarsi yang berdarah Sunda, Rizal Ramli menemukan Herawati yang berdarah Jawa.
“Yang kedua. Baik Soekarno maupun Rizal Ramli pada masa mudanya sama-sama pernah mendekam di Penjara Sukamiskin, Bandung, akibat perlawanan mereka terhadap sistem yang menindas rakyat Indonesia. Jika Soekarno melawan pemerintah kolonial Belanda sehingga dijebloskan penjara tahun 1929, Rizal Ramli melawan rezim otoriter Orde Baru hingga dijebloskan ke Sukamiskin tahun 1978,” imbuhnya.
Hal ketiga, sampai masa paruh bayanya baik Soekarno dan Rizal Ramli tetap setia menjadi juru bicara pelawan sistem ekonomi politik ”penjajahan gaya baru”. Jika dahulu di abad 20, dalam berbagai pidatonya, Soekarno ―beserta para aktivis di era tahun 1950 hingga 1960an― akrab mengistilahkan penjajahan gaya baru sebagai neo kolonialisme-imperialisme atau disingkat nekolim, di abad 21 Rizal Ramli―beserta para aktivis di era tahun tahun 2000an―akrab menyebutnya sebagai neoliberalisme atau disingkat neolib.Kesamaan keempat. Karakter Soekarno dan Rizal Ramli identik dengan seorang tokoh pewayangan yang sama, yaitu Bima. Jika Soekarno, yang memang gemar wayang sejak kecilnya, mengidentikkan dirinya sendiri dengan Bima, “Kini seorang dalang kenamaan yang bernama Ki Sudjiwo Tedjo dalam kekagumannya, menyatakan bahwa karakter Rizal Ramli sangat mirip dengan Bima,” imbuhnya.
Kelima, sambung Gede, baik Soekarno maupun Rizal Ramli memiliki kecintaan yang tinggi terhadap kesenian, terutama karya seni lukisan dan teater. Di tengah aktivitas politik keduanya, apresiasi kesenian merupakan sesuatu kegiatan yang tak mungkin mereka lewatkan.
Sumber: http://forum.kompas.com/nasional/127320-rizal-ramli-mirip-soekarno.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar