![]() |
| DR. Rizal Ramli |
"Jika kita bisa melakukan hal-hal yang berarti sehingga membuang rasa saling tak percaya. Distrust (rasa tak percaya) dihancurkan, semangat rakyat bisa bangkit kembali"
RMOL. Mantan Menteri Perekonomian DR Rizal Ramli menilai kunci persoalan bangsa yang jalan ditempat mesti dituntaskan dengan mengembalikan rasa saling percaya dan melaksanakan Pancasila sebagai idiologi.
"Jika kita bisa melakukan hal-hal yang berarti sehingga membuang rasa saling tak percaya. Distrust (rasa tak percaya) dihancurkan, semangat rakyat bisa bangkit kembali," kata Rizal yang berbicara dalam sarasehan bertema "Kerukunan Umat Beragama Indonesia dari Sulawesi Utara untuk Nusantara di Menado," Sabtu (27/10).
Dia menambahkan, ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan pada 28 Oktober tahun 1928 tidak pernah ada sekat-sekat agama dan antarsuku. Namun, setelah 84 tahun kemudian terjadi gejala pengkotak-kotakan komunitas masyarakat.
Hal ini, lanjut Rizal Ramli, terjadi karena masyarakat terutama mereka yang berada di lapisan bawah hidup dalam kemiskinan dan pengangguran.
"Kita ini merupakan negeri kaya raya, tapi mengapa terjadi kemiskinan karena terjadi kesenjangan diantara elemen masyarakat yang menyebabkan masyarakat gampang dibuat tersekat-sekat," terangnya.
Dijelaskannya, apa yang terjadi itu karena kesalahan penjabaran terhadap berbagai perundangan dan regulasi yang ditelurkan.
"Kita tidak lagi berpegang pada idiologi Pancasila yang sudah menjadi dongeng dan mitos," imbuhnya.
Selain itu, berbagai ketimpangan terjadi akibat kepemimpinan yang lembek tidak memiliki kekuatan melakukan berbagai hal yang seharusnya dilaksanakan.
Meski begitu, Rizal menambahkan, harapan bagi bangsa masih ada, keluar dari situasi yang berjalan ditempat.
"Jika kita bisa melakukan hal hal yang berarti sehingga membuang rasa saling tak percaya di masyarakat," katanya.
Acara yang digelar DPW Garda Pemuda Nasdem Sulut itu, menghadirkan juga pembicara dari berbagai tokoh lintas agama dan profesi seperti, Azyumardi Azzra, Frans Magnis Suseno, Sri Edi Swasono, Ferry Tinggogoy, Beni Sutrisno, Roch Basuki Mangunprodjo, Hendrik Luntungan Kawilarang, Musda Mulia. Acara diisi juga pernyataan sikap dan ikrar para pemuda lintas komunitas se Sulawesi Utara. [dem]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar