DISCLAIMER

Blog ini adalah inisiatif dari beberapa orang yang berhimpun dalam Organisasi Kemasyarakatan yang bernama Garda Kedaulatan Indonesia (GKI) yang berkepentingan untuk ikut berpartisipasi dalam melahirkan kepemimpinan nasional yang mampu mengemban amanah sebagaimana yang telah digariskan dalam UUD Tahun 1945 dan sekaligus mampu mengimplementasikannya. Melalui pengamatan dan pengkajian mendalam yang dilakukan oleh Garda Kedaulatan Indonesia atas sosok Tokoh Nasional DR. Rizal Ramli, baik itu menyangkut gagasan, konsep dan pemikiran ekonomi DR. Rizal Ramli dan kiprahnya selama menjabat sebagai Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur, maupun sebagai ekonom kelas dunia dengan ECONITnya. Garda Kedaulatan Indonesia menyimpulkan bahwa DR. Rizal Ramli adalah figur yang potensial dan memiliki intergritas untuk dicalonkan sebagai Presiden RI berikutnya. Berdasarkan pertimbangan inilah Garda Kedaulatan Indonesia mempersembahkan Blog ini kepada masyarakat Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal pemikiran, gagasan dan konsep dari seorang DR. Rizal Ramli yang selanjutnya diharapkan masyarakat Indonesia memiliki visi yang sama dengan Garda Kedaulatan Indonesia untuk mendukung dan mencalonkan DR. Rizal Ramli sebagai calon Presiden RI berikutnya yang potensial untuk mendapat dukungan kita semua mayoritas rakyat pemilih Indonesia. Untuk diketahui blog ini tidak ada hubungannya atau diketahui oleh DR. Rizal Ramli, ini murni inisiatif dari Garda Kedaulatan Indonesia untuk mensosialisasikan sosok DR. Rizal Ramli sebagai figur yang paling potensial dan memiliki integritas menjadi Presiden Indonesia berikutnya, apabila blog ini mendapatkan respon yang positif dari masyarakat, khususnya kepada DR. Rizal Ramli, maka Garda Kedaulatan Indonesia secara resmi akan menyampaikan dan memberitahukan kepada yang bersangkutan, dan sekaligus mendesak DR. Rizal Ramli agar bersedia dicalonkan sebagai Presiden Indonesia pada 2014 mendatang.

Selasa, 13 November 2012

Dr. Rizal Ramli: Mari Memulai Perubahan dengan Menyatakan Kebenaran

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yatim piatu,” ujar Dr. Rizal Ramli dalam kesempatan menghadiri Silaturrahim Halal Bihalal Idul Fitri 1433 H yang diselenggarakan oleh Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) di Masjid Asy-Syaakiriin, Thamrin City, Jakarta (9/9/2012). Seperti anak yatim piatu, tidak ada pemimpin yang benar-benar memperhatikan nasib rakyatnya. Harga pangan yang terjangkau, pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis, tersedianya lapangan pekerjaan, hanya menjadi janji para pemimpin yang sering dilupakan.

Indonesia kini bagaikan raksasa tidur, harus dibangunkan. Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 6% tidak cukup membuktikan bangsa Indonesia sudah sejahtera. Indonesia harus mengejar ketinggalan dengan bekerja dua kali lipat lebih giat. Para pemimpin sudah seharusnya memperhatikan kebutuhan rakyat bawah, seperti petani.



Jika terpilih menjadi presiden di Pilpres 2014 mendatang, Rizal Ramli merencanakan pembangunan jalur kereta api Trans Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Proyek ini dinilai dapat mempercepat waktu pengiriman dan menghemat biaya pengiriman hasil pertanian hingga 10%. “Bayangkan saja, sekarang harga pengiriman satu tandan kelapa sawit senilai dengan harga kelapa sawitnya sendiri,” jelasnya. Selain itu, dengan membuka jalur kereta, berarti menyediakan ratusan atau bahkan ribuan peluang kerja bagi rakyat.


Dalam kesempatan ini, ia juga berpesan agar rakyat lebih cerdas dalam memilih calon pemimpin, jangan mudah tergiur dengan iming-iming uang.
Ia percaya bahwa bangsa Indonesia suatu saat akan bangkit, asalkan rakyat harus berani menyatakan kebenaran dan menanamkan kejujuran.
Kepalsuan, pencitraan dan pendustaan harus segera dibuka. Untuk melawan hal itu, Rizal Ramli mengajak ulama dan muballigh bergabung menjadi kekuatan yang lebih hebat. Jika berkaca kepada sejarah bangsa Jerman awal abad ke-20, saat itu banyak orang-orang cerdas, namun dengan kecerdasannya tidak dapat mengalahkan Hitler. Hal ini terjadi karena warga mayoritas yang cerdas lebih memilih untuk diam dan tak bersatu, juga enggan mengatakan kebenaran. Tidak heran kelompok lain yang lebih kecil tetapi bermental bandit, bisa berkuasa.
Berbicara apa adanya untuk mengungkapkan persoalan menurutnya juga penting, seperti dikutip di awal dialog,“Saya tidak terbiasa bicara muter-muter, karena nanti rakyat bingung. Saya bicara apa adanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar