Indonesia kini bagaikan raksasa tidur, harus dibangunkan. Angka pertumbuhan ekonomi sebesar 6% tidak cukup membuktikan bangsa Indonesia sudah sejahtera. Indonesia harus mengejar ketinggalan dengan bekerja dua kali lipat lebih giat. Para pemimpin sudah seharusnya memperhatikan kebutuhan rakyat bawah, seperti petani.
Jika terpilih menjadi presiden di Pilpres 2014 mendatang, Rizal Ramli merencanakan pembangunan jalur kereta api Trans Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan. Proyek ini dinilai dapat mempercepat waktu pengiriman dan menghemat biaya pengiriman hasil pertanian hingga 10%. “Bayangkan saja, sekarang harga pengiriman satu tandan kelapa sawit senilai dengan harga kelapa sawitnya sendiri,” jelasnya. Selain itu, dengan membuka jalur kereta, berarti menyediakan ratusan atau bahkan ribuan peluang kerja bagi rakyat.
Dalam kesempatan ini, ia juga berpesan agar rakyat lebih cerdas dalam memilih calon pemimpin, jangan mudah tergiur dengan iming-iming uang.
Ia percaya bahwa bangsa Indonesia suatu saat akan bangkit, asalkan rakyat harus berani menyatakan kebenaran dan menanamkan kejujuran.
Kepalsuan, pencitraan dan pendustaan harus segera dibuka. Untuk melawan hal itu, Rizal Ramli mengajak ulama dan muballigh bergabung menjadi kekuatan yang lebih hebat. Jika berkaca kepada sejarah bangsa Jerman awal abad ke-20, saat itu banyak orang-orang cerdas, namun dengan kecerdasannya tidak dapat mengalahkan Hitler. Hal ini terjadi karena warga mayoritas yang cerdas lebih memilih untuk diam dan tak bersatu, juga enggan mengatakan kebenaran. Tidak heran kelompok lain yang lebih kecil tetapi bermental bandit, bisa berkuasa.
Berbicara apa adanya untuk mengungkapkan persoalan menurutnya juga penting, seperti dikutip di awal dialog,“Saya tidak terbiasa bicara muter-muter, karena nanti rakyat bingung. Saya bicara apa adanya.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar