DISCLAIMER

Blog ini adalah inisiatif dari beberapa orang yang berhimpun dalam Organisasi Kemasyarakatan yang bernama Garda Kedaulatan Indonesia (GKI) yang berkepentingan untuk ikut berpartisipasi dalam melahirkan kepemimpinan nasional yang mampu mengemban amanah sebagaimana yang telah digariskan dalam UUD Tahun 1945 dan sekaligus mampu mengimplementasikannya. Melalui pengamatan dan pengkajian mendalam yang dilakukan oleh Garda Kedaulatan Indonesia atas sosok Tokoh Nasional DR. Rizal Ramli, baik itu menyangkut gagasan, konsep dan pemikiran ekonomi DR. Rizal Ramli dan kiprahnya selama menjabat sebagai Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur, maupun sebagai ekonom kelas dunia dengan ECONITnya. Garda Kedaulatan Indonesia menyimpulkan bahwa DR. Rizal Ramli adalah figur yang potensial dan memiliki intergritas untuk dicalonkan sebagai Presiden RI berikutnya. Berdasarkan pertimbangan inilah Garda Kedaulatan Indonesia mempersembahkan Blog ini kepada masyarakat Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal pemikiran, gagasan dan konsep dari seorang DR. Rizal Ramli yang selanjutnya diharapkan masyarakat Indonesia memiliki visi yang sama dengan Garda Kedaulatan Indonesia untuk mendukung dan mencalonkan DR. Rizal Ramli sebagai calon Presiden RI berikutnya yang potensial untuk mendapat dukungan kita semua mayoritas rakyat pemilih Indonesia. Untuk diketahui blog ini tidak ada hubungannya atau diketahui oleh DR. Rizal Ramli, ini murni inisiatif dari Garda Kedaulatan Indonesia untuk mensosialisasikan sosok DR. Rizal Ramli sebagai figur yang paling potensial dan memiliki integritas menjadi Presiden Indonesia berikutnya, apabila blog ini mendapatkan respon yang positif dari masyarakat, khususnya kepada DR. Rizal Ramli, maka Garda Kedaulatan Indonesia secara resmi akan menyampaikan dan memberitahukan kepada yang bersangkutan, dan sekaligus mendesak DR. Rizal Ramli agar bersedia dicalonkan sebagai Presiden Indonesia pada 2014 mendatang.

Sabtu, 06 April 2013

Rizal Ramli Ingin Rakyat Sejahtera dan Indonesia Digdaya

DR. Rizal Ramli
(Antara/Danu Baharuddin)


"Keinginan saya yang terbesar saat ini adalah memperbaiki kualitas dan manfaat demokrasi di Indonesia, agar rakyat bisa sejahtera dan Indonesia digdaya," ujar tokoh nasional Rizal Ramli di sela-sela penganugrahan Democracy Award yang diberikan kepadanya oleh Rakyat Merdeka Online (RMOL), di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Rabu (20/3).

Democracy Award diberikan kepada Rizal Ramli dan sejumlah tokoh lain, karena dianggap berjasa dalam memperkuat pondasi demokrasi di tanah air. Setiap tahun pemberian anugrah dikemas dalam acara malam budaya. Tahun ini, tema malam budaya itu adalah Beri Daku Sumba, meminjam judul puisi yang ditulis penyair Taufik Ismail pada tahun 1970.

Rizal Ramli sejak 1970an ketika masih mahasiswa, sudah berjuang menegakkan demokrasi dari kampus. Dia dan kawan-kawannya bahkan sempat mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung, karena menulis Buku Putih yang berisi kritik terhadap penguasa otoriter saat itu, Soeharto. Buku yang kemudian diterjemahkan dalam tujuh bahasa asing tersebut, mendapat pujian dari dua Indonesianis asal Cornel University, Amerika Serikat, yaitu profesor George MT Kahin dan profesor Ben Anderson. Mereka berpendapat Buku Putih merupakan buku kritik sistematis pertama di Indonesia terhadap rezim otoriter Orde Baru.

Menurut calon presiden alternatif versi The President Centre ini, demokrasi yang dikembangkan pasca Reformasi 1998 telah dibajak kekuatan oligarki, pemodal, dan mereka yang mengedepankan sikap pragmatis. Akibatnya, demokrasi yang semestinya mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat, justru berubah menjadi pintu masuk maraknya perilaku korup dan standar etika yang amat rendah di kalangan pejabat publik.

"Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk dengan iklan dan spanduk untuk pencitraan. Indonesia juga  tidak butuh pemimpin yang hanya pandai bicara dan berkeluh kesah. Indonesia membutuhkan pemimpin yang memiliki visi, karakter, integritas, dan kompetensi. Dengan begitu rakyat bisa sejahtera dan Indonesia digdaya di mata dunia," papar Rizal yang sejak beberapa tahun ini menjadi anggota panel ahli Perhimpunan Bangsa Bangsa (PBB).

Tingginya biaya politik di Indonesia pasca reformasi, memang telah menyeret partai politik dan kadernya berperilaku korup. Yang dikembangkan bukanlah demokrasi substansial, melainkan demokrasi kriminal. Ke depan, negara sebaiknya membiayai Parpol seperti di Perancis, Jerman, dan Australia sehingga tidak ada alasan mereka melakukan korupsi lagi.

"Negara sebaiknya mengalokasikan anggaran khusus dalam APBN untuk membiayai parpol. Dengan begitu pemerintah dapat mengawasi penggunaan keuangannya, termasuk dari mana saja mereka mendapatkan dana. Nanti akan ada auditor independen yang memeriksa keuangan parpol secara berkala," kata Rizal Ramli yang juga mantan Menko Perekonomian di era Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Menurut dia, nilai anggaran yang perlu dialokasikan negara untuk parpol tidak besar. Jumlahnya sekitar Rp 5 triliun. Dibandingkan total anggaran dalam APBN 2013 yang lebih dari Rp 1.683 triliun, jumlah ini relatif tidak berarti. Pada saat yang sama, dengan mengalokasikan anggaran secara resmi, parpol tidak bisa lagi menjarah di APBN seperti selama ini mereka lakukan. Diperkirakan anggaran pembangunan yang dijadikan bancakan nilainya sekitar Rp 60 triliun.

"Dengan menerima anggaran dari APBN, negara punya hak penuh mengaudit keuangan parpol. Jika ditemukan penyimpangan dalam sumber-sumber pendanaannya, bisa dikenai sanksi. Begitu juga jika kader-kader parpol melakukan korupsi, maka tahun depan anggaran mereka akan dipotong," papar tokoh nasional yang menjadi ikon perubahan ini.

Rizal Ramli yang juga Ketua Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) menyatakan keyakinannya, bahwa dengan mekanisme seperti itu kelak partai politik tidak lagi berani sembarangan dalam merekrut kadernya. Mereka akan ‘dipaksa’ mencari figur-figur yang memiliki integritas dan kapasitas untuk mengisi posisi jabatan publik, seperti DPR dan kepala daerah. Pasalnya, setiap pelanggaran keuangan yang terjadi, akan berdampak pada pengurangan alokasi anggaran tahun berikutnya. Hal yang lebih penting lagi, korupsi akan berdampak anjloknya perolehan suara pada pemilu berikutnya, karena rakyat pasti akan meninggalkan mereka.

Dana bantuan kepada parpol yang selama ini diberikan pemerintah terlalu kecil. Akibatnya, bukan saja tidak efektif, tapi juga negara tidak bisa mengontrol keuangan parpol. Itulah sebabnya banyak pertai politik yang mencari dana dengan segala cara, termasuk sengaja melakukan bancakan anggaran proyek pembangunan infrastruktur di DPR.

Ketika Orde Baru berkuasa, korupsi dilakukan pada level pelaksanaan proyek-proyek yang dibiayai APBN. Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo pernah memprediksi kebocoran anggaran saat itu mencapai 30%. Namun di era pasca reformasi, korupsi sudah dilakukan sejak awal pembahasan anggaran di APBN. Korupsi berlanjut pada saat pencairan anggaran yang menggunakan jasa anggota DPR yang berfungsi sebagai ‘makelar’ anggaran. Selanjutnya korupsi kembali terjadi pada saat proyek dikerjakan di lapangan.

Dengan fakta seperti ini, tidak mengherankan banyak kader parpol yang menjadi pejabat publik kesandung kasus korupsi. Dalam lima tahun terakhir saja, sudah 30% bupati dan walikota yang masuk penjara, 20% gubernur tengah diproses secara hukum, dan 50% anggota komisi anggaran DPR masuk penjara. [dem]

Pemerintah SBY Tidak Memiliki Strategi dan Kebijakan Yang Jelas di Sektor Pangan



Pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen ternyata tidak berdampak bagi perbaikan kesejahteraan sebagian besar rakyat Indonesia. Selain itu, pertumbuhan yang berkali-kali diklaim sebagai keberhasilan pemerintah, ternyata lebih banyak disebabkan naiknya harga komoditi (commodity booming) di pasar dunia yang lebih panjang daripada biasanya.  Fakta ini jelas menunjukkan pertumbuhan ekonomi terjadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi. Tanpa dorongan konsumsi di dalam negeri dan commodity booming, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sekitar 4-4,5 persen, demikian menurut DR. Rizal Ramli.


Melambungnya harga berbagai bahan pangan akhir-akhir ini terjadi karena pemerintah tidak memiliki strategi dan kebijakan yang jelas di sektor pangan. Hal ini diperparah lagi dengan adanya sistem kuota impor yang tidak transaparan, sehingga memicu terjadinya pat gulipat antara pejabat dan pengusaha penerima lisensi kuota impor yang merugikan rakyat.

"Kalau sistem kuota dihapuskan dan diganti dengan sistem tarif, dipastikan impor kita akan lebih kompetitif. Harga bahan pangan akan lebih murah dan terjangkau oleh rakyat kecil. Saat ini, yang terjadi bukan kenaikan harga, tapi telah lompatan harga atau price jump, pada harga kebutuhan pangan," kata Menko Perekonomian Dr Rizal Ramli saat mengunjungi pasar induk Kramat Jati, Jakarta Timur (Senin, 18/3).

Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah kebutuhan pangan mengalami lompatan harga. Daging, misalnya, harganya berkisar Rp 80.00-90.000 per kg, atau dua kali lebih mahal dibandingkan harga di luar negeri. Begitu juga dengan gula, kedelai, beras, dan lainnya. Bahkan harga bawang putih dan bawang merah sempat menembus Rp 100.000 per kg. Kondisi ini tidak hanya membuat pusing ibu rumah tangga selaku konsumen, tapi juga para pedagang di pasar karena sulit menjual akibat terlalu mahal.

Menurut tokoh nasional yang dinobatkan sebagai calon presiden alternatif versi The President Centre ini, lompatan harga yang kini terjadi disebabkan bisnis pangan di Indonesia diatur dengan sistem kuota yang tidak transparan dan kompetitif. Pada prakteknya, pembagian kuota impor ini juga terjadi karena pat gulipat antara pejabat dan pengusaha. Hal ini menjadi sumber pendapatan pejabat dan untuk kepentingan politik. Akibatnya negara dirugikan karena tidak memperoleh penerimaan yang semestinya. Sedangkan rakyat dirugikan karena harus membayar harga pangan lebih mahal daripada harga di luar negeri.

Rizal yang mantan Kepala Badan Urusan Logisitik (Bulog) manyatakan kebijakan pengendalian pasok (demand management) yang selama ini diterapkan pemerintah terbukti tidak efektif. Sebaiknya digantikan dengan sistem pengendalian pasokan (supplay management). Selain itu, pemerintah harus all out memberikan insentif untuk menaikkan produksi.

Sehubungan dengan itu, selaku Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP), Rizal meminta Menteri Perdagangan untuk mengumumkan secara transaparan para penerima kuota impor, besarnya kuota yang diterima, dan keuntungan yang mereka peroleh yang selama ini mereka jadikan bancakan dengan para pejabat dan para politisi. Mereka juga harus menjelaskan mengapa harga pangan di dalam negeri dua kali lebih mahal dibandingkan harga di luar negeri. Yang tidak kalah pentingnya, Mendag juga harus mengganti sistem kuota yang merugikan negara dan rakyat, dengan sistem tarif yang lebih transparan dan efisien.

"Sedangkan kepada Menteri Pertanian, saya minta segera mempertanggungjawabkan anggaran sektor pertanian yang dari tahun ke tahun terus naik, tapi tidak diikuti dengan kenaikan produksi. Mentan juga harus segera mengumumkan rencana tiga tahunan agar Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Rencana itu harus disertai dengan target-target kuantitatif dan jadwal pencapaian yang jelas. Ganti para penyuluh yang bergaya birokrat dan politisi dengan petugas penyuluh pertanian secara profesional," ujar Rizal yang menjadi ikon tokoh perubahan nasional.

Dia juga minta agar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) melakukan investigasi dugaan adanya praktik kartel. Hal ini bisa dimulai dari penelusuran sistem pengalokasian kuota impor pangan yang telah merugikan rakyat. Jika memang terbukti ada praktik kartel, maka KPPU harus menjatuhkan sanksi tegas. Sedangkan bagi pejabat yang terbukti melakukian pat gulipat dalam alokasi kuota, harus diproses sesuai hukum yang berlaku.

Mantan Menkeu ini juga menyoroti rendahnya indeks pembangunan manusia (human development index/HDI) di Indonesia. Dari 187 negara yang dinilai, Indonesia berada di urutan 121. Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah Thailand dan Filipina.  Sedangkan Malaysia jauh meninggalkan Indponesia di posisi 64. Bahkan Singapura dan Brunei Darussalam menduduki peringkat 18 dan 30.

Pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen ternyata tidak berdampak bagi perbaikan kesejahteraan sebagian besar rakyat Indonesia. Selain itu, pertumbuhan yang berkali-kali diklaim sebagai keberhasilan pemerintah, ternyata lebih banyak disebabkan naiknya harga komoditi (commodity booming) di pasar dunia yang lebih panjang daripada biasanya.  Fakta ini jelas menunjukkan pertumbuhan ekonomi terjadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan kebijakan pemerintah di bidang ekonomi. Tanpa dorongan konsumsi di dalam negeri dancommodity booming, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sekitar 4-4,5 persen. [ysa]

Sumber: http://www.rmol.co/read/2013/03/18/102690/DR-Rizal-Ramli:-Hapus-Sistem-Kuota-Impor-!-

Senin, 01 April 2013

Warga Gunung Kidul Antusias Sambut Rizal Ramli


RIZAL RAMLI/RMOL
 "Selamat datang Pak Rizal Ramli, maaf penyambutan yang bisa kami suguhkan hanya ala kampung," ujar Endang Sumiartini, Lurah Karang Asem.

 
Sekira seribuan warga Paliyan, Gunung Kidul tumpah ruah di Balai Dusun Trowono A, Desa Karang Asem, Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul, Yogyakarta, Minggu siang (31/3). Para muda-mudi dan anak-anak asyik mendengar alunan gamelan. Sementara yang sepuh duduk berbaris mengantri untuk mendapatkan layanan pengobatan gratis.

Selain para sepuh, para ibu-ibu hamil ikut duduk mengantri. Ada 400-an warga yang menikmati layanan pengobatan gratis yang digelar komunitas Sahabat Bangsa Untuk Persatuan dan Yayasan Pandora kali ini. Menggandeng tim medis dari Mercy, para warga nampak sumringah ikut acara sekalipun langit Paliyan cukup terik.

Sesekali alunan gamelan berhenti. Pelaku seni asli Paliyan gantian memamerkan gejug lesung, reog dan jathilan. Sorot pandangan para warga tajam mengarah ke pelataran balai dusun, tempat aksi berlangsung. Kesibukan warga tak sampai di sini. Sebagian lainnya hilir mudik melihat-lihat ratusan foto yang dipajang di sekeliling lokasi. Sebagian besar foto yang dipajang adalah aktivitas sosial politik DR Rizal Ramli selama menempati sejumlah posisi strategis di pemerintahan, antara lain kepala Badan Urusan Logistik (Bulog), dan menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Panitia mendatangkan sekaligus menampilkan sosok Rizal Ramli yang kini menjadi penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) lewat puluhan foto di Gunung Kidul karena dia dinilai punya komitmen tinggi terhadap perbaikan nasib dan kesusahan rakyat kecil. Sejak jadi mahasiswa di Institut Tekhnologi Bandung hingga saat ini dia konsisten dalam pandangan dan perjuangannya untuk memperbaiki bangsa. Tak segan dia ikut turun ke jalan bersama elemen masyarakat kritis untuk menolak sistem yang memperbudak rakyat dan jauh dari cita-cita kemerdekaan dan amanat Konstitusi.

Sikap dan perjuangan Rizal Ramli ini dianggap pas dengan kondisi masyarakat di sana karena mayoritas masih hidup di bawah garis kemiskinan. Daerah Gunung Kidul bahkan populer dengan julukan sebagai 'kampung bunuh diri' karena banyak warganya yang memilih mengakhiri hidup dengan berbagai alasan terbilang tinggi.

Selain foto Rizal Ramli, panitia juga memajang foto-foto hasil jepretan fotographer asli Gunungkidul.

Tarian Jathilan yang dimainkan anak-anak dan reog menyambut kedatangan Rizal Ramli. Setelah menunggu 3 jam, warga pun menyambut dengan semangat. Rizal Ramli pun menyalami warga yang berebut mendekat ke arahnya. Dalam kegiatan ini, dia memang didaulat untuk membuka acara.

"Selamat datang Pak Rizal Ramli, maaf penyambutan yang bisa kami suguhkan hanya ala kampung," ujar Endang Sumiartini, Lurah Karang Asem.

Rangkaian acara pengobatan gratis, pameran foto dan pegelaran seni ini dijadualkan berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 23.00 malam nanti.[ian]

Sumber : http://rmol.co/news.php?id=104518