DISCLAIMER

Blog ini adalah inisiatif dari beberapa orang yang berhimpun dalam Organisasi Kemasyarakatan yang bernama Garda Kedaulatan Indonesia (GKI) yang berkepentingan untuk ikut berpartisipasi dalam melahirkan kepemimpinan nasional yang mampu mengemban amanah sebagaimana yang telah digariskan dalam UUD Tahun 1945 dan sekaligus mampu mengimplementasikannya. Melalui pengamatan dan pengkajian mendalam yang dilakukan oleh Garda Kedaulatan Indonesia atas sosok Tokoh Nasional DR. Rizal Ramli, baik itu menyangkut gagasan, konsep dan pemikiran ekonomi DR. Rizal Ramli dan kiprahnya selama menjabat sebagai Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur, maupun sebagai ekonom kelas dunia dengan ECONITnya. Garda Kedaulatan Indonesia menyimpulkan bahwa DR. Rizal Ramli adalah figur yang potensial dan memiliki intergritas untuk dicalonkan sebagai Presiden RI berikutnya. Berdasarkan pertimbangan inilah Garda Kedaulatan Indonesia mempersembahkan Blog ini kepada masyarakat Indonesia, dengan tujuan agar masyarakat Indonesia dapat lebih mengenal pemikiran, gagasan dan konsep dari seorang DR. Rizal Ramli yang selanjutnya diharapkan masyarakat Indonesia memiliki visi yang sama dengan Garda Kedaulatan Indonesia untuk mendukung dan mencalonkan DR. Rizal Ramli sebagai calon Presiden RI berikutnya yang potensial untuk mendapat dukungan kita semua mayoritas rakyat pemilih Indonesia. Untuk diketahui blog ini tidak ada hubungannya atau diketahui oleh DR. Rizal Ramli, ini murni inisiatif dari Garda Kedaulatan Indonesia untuk mensosialisasikan sosok DR. Rizal Ramli sebagai figur yang paling potensial dan memiliki integritas menjadi Presiden Indonesia berikutnya, apabila blog ini mendapatkan respon yang positif dari masyarakat, khususnya kepada DR. Rizal Ramli, maka Garda Kedaulatan Indonesia secara resmi akan menyampaikan dan memberitahukan kepada yang bersangkutan, dan sekaligus mendesak DR. Rizal Ramli agar bersedia dicalonkan sebagai Presiden Indonesia pada 2014 mendatang.

Minggu, 17 Juni 2012

Indonesia Membutuhkan Pertumbuhan Ekonomi Minimal 10% (per tahun) Untuk Menjadi Salah Satu Raksasa Ekonomi


Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pemerintah tak perlu bekerja. Cukup dengan menutup mata, atau sekalian tidur saja, laju pertumbuhan sebesar itu bisa terjadi dengan sendiri.
Apa yang dibutuhkan sebuah negara dengan kapasitas dan potensi yang begitu besar seperti Indonesia adalah pemerintahan yang kuat dan efektif, yang bisa menjadi faktor pendorong utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dua digit.
Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi minimal 10 persen per tahun untuk menjadi salah satu raksasa ekonomi dan faktor penentu konstelasi politik di kawasan Asia dan bahkan dunia.
Demikian antara lain disampaikan ekonom senior, Dr. Rizal Ramli, dalam diskusi terbatas dengan Direktur Program Asia Tenggara Center for Strategic and International Studies (CSIS), Ernest Z. Bower, di Washington DC, Amerika Serikat, Senin siang waktu setempat (11/6). Selain Bower, pertemuan itu juga dihadiri Deputi Direktur dan Senior Fellow CSIS, Murray Hiebert.
Dari pertemuan yang berlangsung secara informal itu dapat disimpulkan bahwa baik Bower maupun Hiebert memiliki cara pandang yang sama dengan Rizal Ramli dalam melihat berbagai persoalan yang sedang dihadapi Indonesia. Mereka gembira karena ternyata masih ada tokoh alternatif di Indonesia yang memilisi visi yang jelas dan tekad yang kuat menjadikan Indonesia sebagai negara berpengaruh di Asia.
Tidak ada yang dapat menyangkal potensi potensi besar yang dimiliki Indonesia. Namun sayangnya pemerintah gagal memanfaatkan potensi itu, juga gagal menciptakan manuver yang dapat menyakinkan kalangan usaha kelas dunia. Bahkan yang lebih memprihatinkan, tampaknya kebijakan pemerintah tidak mendukung daya saing Indonesia di tengah pertumbuhan ekonomi kawasan Asia.
"Indonesia memiliki potensi besar. Tetapi karena kepemimpinan yang lemah dan tidak tegas, serta permisif terhadap korupsi, Indonesia kehilangan opportunity untuk menjadi negara makmur yang besar," ujar Rizal Ramli kepada Rakyat Merdeka Online usai pertemuan.
Ketua Dewan Pembina Persatuan Rakyat Desa (Parade) Nusantara itu mengatakan, masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Asia dan dunia. Bila perubahan benar-benar terjadi, Rizal Ramli optimistis Indonesia akan bangkit menjadi negara besar di Asia dan mengejar ketertinggalan dari raksasa Asia lainnya, seperti Republik Rakyat China dan Korea Selatan.
Dia membandingkan komitmen pemerintah Indonesia dan pemerintah Republik Rakyat China dalam hal mendorong pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing. Di China, kebijakan yang ada diikuti dengan kerja nyata.
Untuk pembangunan jalan tol, misalnya. China yang baru membuka pintu dalam satu dekade terakhir kini telah memiliki jalan tol lebih dari 20 ribu kilometer. Sementara Indonesia, sejak tahun 1978 hingga kini hanya memiliki jalan tol sepanjang 762 kilometer. Dalam delapan tahun terakhir jalan tol di Indonesia hanya bertambah 140 kilometer.
Dibandingkan dengan Malaysia saja Indonesia kalah. Malaysia baru memulai pembangunan jalan tol pada 1985. Namun sekarang memiliki jalan tol sepanjang 3.500 kilometer.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini adalah buah dari booming commodity yang terjadi satu dekade terakhir. Selain itu juga didukung oleh faktor aliran dana spekulatif yang cukup deras. Tanpa kedua hal itu, ekonomi Indonesia akan kandas selagi pemerintah tidak menciptakan faktor pendukung yang genuine," masih kata Rizal Ramli.
Dalam kesempatan itu Rizal Ramli juga menyatakan bahwa di tengah kemungkinan persaingan dan kompetisi antara Amerika Serikat dan China di kawasan Asia, Indonesia tidak mau menjadi bagian dari hegemoni baik China maupun Amerika. Indonesia, sambung Rizal Ramli, harus memainkan peran sebagai stabilisator di antara keduanya. Hal itu bisa terjadi bila Indonesia memiliki kekuatan setara dengan Amerika dan China.
"Hanya dengan demikian Indonesia bisa memperjuangkan perdamaian di Asia dan dunia umumnya seperti diamanatkan konstitusi," demikian Rizal Ramli. [guh]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar