Muhammad Mursi dan Rizal Ramli tentu tidaklah sama. Namun ada titik temu di antara keduanya yakni Mursi dan Ramli sama-sama aktivis mahasiswa yang gigih, bergerak dari NOL, dari paling bawah dan keduanya merasakan pahitnya di penjara rezim otoriter. Mursi tumbuh dari lingkungan Islamis, sementara Rizal Ramli tumbuh dari lingkungan Nasionalis religius sebagai anak yatim piatu, namun keduanya pluralis dan toleran. Keduanya sudah kenyang dilecehkan, di-stigma dan dicaci-maki, keduanya kenyang dicurigai dan diprasangkai, bahkan difitnah keji. Keduanya bukan tokoh paling popular, apalagi tidak berduit. Keduanya dilecehkan para presiden yang berkuasa. Namun keduanya tidak pernah dendam kepada siapapun yang menindas mereka.
Keduanya tidak begitu dikenal dalam polling-poling dan survei di Negara masing-masing. Mursi seorang Islamis yang humanis, sementara Rizal Ramli adalah Nasionalis yang humanis. Keduanya mengalami ‘’jalan ke pengasingan’’, meminjam frase John Ingleson, untuk kembali ke Tanah Air guna membangun kembali bangsa dan negaranya dari keterpurukan. Mursi dan Ramli sadar bahwa bangsa Mesir dan Indonesia menjadi yatim piatu karena tidak ada pemimpin yang amanah. Keduanya bergolak menjawab tantangan zamannya dengan melayani rakyat jelata, dan dhuafa tanpa kepentingan pribadi, meski tidak populer di mata media dan dilecehkan kaum borjuis pula.
Tapi kedua aktivis itu berpendidikan PhD. Mursi sang presiden dan pemimpin baru Mesir itu,menerima gelar sarjana dan Master di bidang teknik dari Universitas Kairo pada tahun 1975 dan 1978. Sedangkan gelar Ph.D. di bidang teknik ia terima dari University of Southern California,AS pada tahun 1982. Sedangkan Rizal Ramli, sang pelayan rakyat yang bekerja keras untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran, menyelesaikan Fisika di ITB dan meriah Master dan Doktor (PhD) di Boston University, AS 1990-an. Keduanya lulusan Amerika yang perduli dan komit pada bangsanya yang tenggelam kedalam keterbelakangan dan ketidakadilan.Rizal Ramli lahir sebagai anak pinggiran dan karena yatim piatu, maka ia harus bekerja dulu setamat SLTA untuk mencari biaya bagi kuliahnya di Departemen Fisika ITB. Setelah demonstrasi-demonstrasi yang pahit dan penuh luka di ITB tahun 1977/78 dan dipenjara Orde Baru, Rizal Ramli bertolak belajar ke Boston University,AS hingga meraih gelar Doktor (PhD) Ilmu Ekonomi karena ingin mengatasi kompleksitas masalah ekonomi bangsanya sebagaimana pesan Soekarno-Hatta, Founding Fathers.
Rizal Ramli tenggelam di berbagai survei dan jajak pendapat karena tidak ada lembaga survei yang mau memasukkan namanya dalam survei mereka. Ramli marginal dan tidak punya dana maju ke pilpres 2014 kalau tidak ada bantuan rakyat dan Tuhan Yang Maha Penyayang. Ramli marginal dan tak popular. Mursi juga tidak popular di Mesir dibandingkan tokoh kesohor seperti Mohamad El Baradey, Ahmad Shafik, Boutros Ghali dan Amr Mousa. Baik Rizal Ramli maupun Muhamad Mursi sama-sama underdog, kalau Rizal dicap sebagai nasionalis, Mursi dicap Islamis. Namun keduanya humanis dan sadar akan pluralitas dan kesetaraan. Keduanya menjunjung tinggi kebhinekaan, apalagi mengenyam pendidikan di Timur maupun Barat sehingga sangat memahami ragam peradaban.
Rizal Ramli adalah pelayan rakyat, dan sejak masa mudanya ia berani melawan kezaliman. Dialah anak yatim piatu yang selalu mendorong rakyat jelata untuk sekolah dan tak putus asa dalam melawan kekalahan dan ketidakadilan.
Rizal Ramli dan Muhamad Mursi sama-sama bergerak memperjuangkan hak-hak dasar warganya dan meneguhkan kesetaraan dan keadilan karena pendidikan tinggi mereka memungkinkan keduanya memperkaya peradaban, moralitas,spirit dan pengalaman mereka untuk menyelamatkan negeri mereka yang karam oleh kezaliman dan korupsi.’’ Selamatkan Indonesia, itulah komitmen saya sebagai pelayan rakyat jelata,’’ kata Rizal Ramli. ‘’Kemenangan saya untuk semuanya, perubahan sudah tiba,’’ kata Mursi.
''Saya ingin melayani rakyat, semoga Tuhan mengijinkan kiranya,'' kata Ramli. '' Kemenangan saya adalah untuk rakyat, untuk semuanya,'' kata Mursi. Kedua bekas aktivis mahasiswa itu menundukkan kepala kepada Yang Maha Kuasa, di tengah kemelut bangsanya.
Keduanya ingin menjadi pelayan rakyat jelata, yang terhina, kalah dan marginal, yang kehilangan harapan. Keduanya berusaha dijalan Tuhan yang terjal dan penuh duri, keduanya mencintai bangsanya yang menderita dan menjadi korban globalisme-kapitalisme, dengan sepenuh hati. Mursi akan berdiri dengan jarak yang sama di hadapan seluruh rakyatnya, seraya berkata, “Allah melihat kita dan menjadi saksi bagi kita seluruhnya.”
Negara Mesir selama enam dekade terakhir selalu dipimpin dari jajaran militer. Inilah pertama kalinya Mesir moderen dipimpin Mursi, tokoh Islamis dan dipilih secara bebas oleh masyarakat. Kini Rizal Ramli, anak yatim piatu yang selalu marginal itu, ingin menjadi pelayan rakyat sekaligus pemimpin sejati negeri ini untuk pertama kali. Semoga Tuhan membukakan jalan bagi keduanya dalam menyelamatkan bangsa dan kehidupan yang nyaris tanpa harapan.(RM)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar